Header Ads

ad

Perang Media: Panah Mereka dengan Panah Media!




Berniatlah untuk Menolong Agama Allah, Kala Itu Datanglah Pertolongan Allah
Perang memang bukan hal yang menyenangkan. Perang yang buruk adalah perang yang berkepanjangan, tidak tahu apa yang menjadi target perangnya dan tidak tahu apa arti kemenangan dalam perang yang dilakukan. Apalagi perang media lebih abstrak dari perang bersenjata. Sebaik-baiknya perang adalah yang hemat tenaga, hemat waktu, dan tepat sasaran yang semua itu berasal dari serangan berkualitas.
Namun, serangan berkualitas tidaklah muncul dari kaum yang munafik dan penghianat. Para tentara haruslah berasal dari orang yang memiliki niat tulus, tunduk kepada Allah dan Rasulnya serta berkeinginan menolong agama Allah.

Allah berfirman yang artinya:
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Gunakan Panah Media Sebagai Kekuatan Untuk Menghasilkan Serangan Berkualitas

Rasulullah ﷺ memberitahukan kita rahasia dalam berperang. Rahasia dari kekuatan dan serangan berkualitas. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ
Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)

Dalam setiap perang pastilah terdapat posisi yang berfungsi sebagai pemanah. Ketika alat panah hilang digerus zamanpun tergantian dengan hal serupa yang berfungsi sebagai pemanah, seperti senapan atau rudal. Begitupun ketika kita melihat makna luas memanah, kita bisa melihat sebuah peran media yang dimaknai sebagai pemanah.

Mulailah menentukan taktik media yang bisa menjadi ‘panah’. Filosofi memanah itu menentukan target, menjaga pikiran agar fokus, mencari peluang terbesar atau target kunci, bisa dilakukan dalam jarak yang jauh dan lebih efisien tenaga.

Panah yang bagus adalah yang busurnya lentur dan bisa digunakan di saat yang tepat, karenanya membiarkan tali terpasang terus menerus akan mengakibatkan tali busur panah cepat kendor. Namun yang terpenting bagi pemanah adalah skill, maka yang harus diasah adalah kemampuan bagi pemanah itu sendiri.
Begitupun dengan media. Media yang siap perang adalah media yang tahu target, tahu siapa lawan dan kawan, tahu kapan harus menyerang, tahu apa saja yang diserang, tahu target kunci yang harus diserang, tahu strategi dan pola penyerangan.

Media yang siap berperang adalah media yang tidak selalu tegang, hingga orang lari ketakutan darinya. Jelas pula yang terpenting adalah pengisi media tersebut. Orang yang dibarisan depan perang media tentulah orang yang paling ahli dalam bidangnya. Mereka adalah para ulama, jurnalis dan penulis, karena pemanah terbaik adalah pemanah yang berada diatas bukit.

Hikmah memanah bagi ulama seperti mengeluarkan fatwa dan menuliskan kitab bantahan terhadap sebuah kesesatan yang ada. Maka hikmah ini bisa diterapkan ke dalam perang media. Tentu yang tahu tentang semua itu adalah para ulama dan orang yang berwawasan.

Dari pembahasan ini  bukan berarti sunnah memanah secara arti sebenarnya dihilangkan. Walaupun memanah bisa dimaknai dengan makna yang luas namun  memanah adalah sebuah sunnah yang ditekankan untuk diajarkan.

Dari pembahasan ini juga penulis ingin mengobarkan semangat para ulama yang telah mengetahui serangan media yang menohok kaum muslimin saat ini, untuk mulai mempersiapkannya. Perang media bukanlah karangan, ia sudah banyak menembus batas syariat. Tidaklah syubhat dan syahwat tersebar kecuali salah satunya dengan media. Tentukanlah sikap, mulailah bersiap!

Sumber: gemaislam.com

Tidak ada komentar