Header Ads

ad

Ustman bin Affan Radiallahu'anhum Punya Hotel Bintang Lima di Saudi

TAHUKAH Anda bangunan apa gambar di atas? Ini
adalah waqaf berupa bangunan hotel yang
disewakan di Saudi. Pemiliknya: Ustman bin Affan!
Bagaimana sesjarahnya hingga beliau memiliki hotel
atas namanya di dekat Masjid Nabawi?

Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik
hingga kesulitan air bersih. Ini disebabkan juga
kaum muhajirin sudah terbiasa minum dari air
zamzam di Mekkah. Satu-satunya sumber air yang
tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi.
Sumur Raumah namanya. Rasanya pun mirip
dengan sumur zamzam. Kaum muslimin dan
penduduk Madinah terpaksa harus rela antre dan
membeli air bersih dari Yahudi tersebut.
Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda :
“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang
menyumbangkan hartanya untuk dapat
membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya
untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah
Ta’ala,” (HR. Muslim).

Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang
kemudian segera bergerak untuk membebaskan
Sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi
Yahudi pemilik sumur dan menawar Sumur Raumah
dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi
penawaran yang tertinggi sekalipun, Yahudi pemilik
sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya
sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka
aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku
peroleh setiap hari,” demikian Yahudi tersebut
menjelaskan alasan penolakannya.
Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin
sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga
Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi
penolakan Yahudi ini.

“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari
sumurmu?” Utsman, melancarkan jurus
negosiasinya.
“Maksudmu?” tanya Yahudi itu keheranan.
“Begini, jika engkau setuju, maka kita akan memiliki
sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku,
esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa
menjadi milikku lagi. Demikian selanjutnya berganti
satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berpikir cepat, “Aku mendapatkan
uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan
sumur milikku…” Akhirnya si Yahudi setuju menerima
tawaran Utsman tadi dan disepakati pula mulai hari
itu Sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan
Radhiyallahu ‘anhu.

Utsman pun segera mengumumkan kepada
penduduk Madinah yang hendak mengambil air di
Sumur Raumah untuk kebutuhan mereka tanpa
dikenakan biaya hari itu Sumur Raumah adalah
miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk
Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup
untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi
milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya
sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih
memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun
mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman
belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga
sama seperti engkau membeli setengahnya
kemarin.”

Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000
dirham, maka Sumur Raumahpun menjadi milik
Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu
mewakafkan Sumur Raumah kepada umat. Sejak itu
Sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja,
termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin,
tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon
kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah
Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin
berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh
pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen
Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke
pasar-pasar. Setengah dari keuntungan itu
disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin.
Sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam
bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu
bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah
pengawasan Departeman Pertanian.

Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank
itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan
membangun hotel yang cukup besar di salah satu
tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian
dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5.
Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun.
Setengahnya untuk anak-anak yatim dan fakir
miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan
ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan
radhiyallahu anhu.

CATATAN:
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tulisan
diatas,betapa jika seorang hamba yang berbisnis dengan Alloh
Taala maka sudah dipastikan bisnisnya tersebut tidak akan
merugi selamanya.Ini bentuk dari sedekah jariyah yang
pahalanya terus mengalir sampai kapanpun selama sedekah
tersebut membawa manfaat bagi orang lain. Dan Sahabat yang
mulia Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu telah meraihnya
dengan sukses.Walaupun beliau telah meninggal ribuan tahun
yang lalu,namun namanya masih tercatat sebagai jutawan abad
ini di negara yang pemerintahannya penuh dengan sifat
amanah.Tidak dipungkiri Arab Saudi dan Daulah Utsmaniyyah
telah terpilih sebagai pemerintahan yang berhasil menjaga
amanah wakaf dari seorang Muslim mulia

Maka tercelalah kaum (baca : syi'ah) yang selalu menghiasi
bibirnya untuk mencela Sahabat yang mulia ini.Segigih apapun
fitnah mereka kepada Utsman bin Affan namun Alloh
berkehendak lain untuk mewangikan nama beliau terus dan
terus sepanjang zaman.

[Islampos.com/kompasiana.com]
@ibnumukmin

Tidak ada komentar