Suriah pun Medan Perang Media

Perang Suriah yang telah
berlangsung selama dua setengah tahun selain
medan pertempuran senjata api, juga merupakan
perang media antara media Islam melawan media
musuh Islam.
Menurut Agus Abdullah, CEO media Kiblat.net,
masyarakat Suriah yang mayoritas adalah warga
sipil bosan dengan penindasan oleh rezim Suriah
yang dikuasai oleh keluarga Asad selama
berdekade lamanya.
“Masyarakat Suriah selama masa rezim Hafeedz
dan Basyar Asad (ayah dan anak) dijauhkan dari
memperlajari agama Islam, bahkan mereka
dilarang beribadah di masjid. Kalau ada yang
sholat di masjid dan berjamaah maka akan
ditangkap dan dicurigai sebagai ekstrimis atau
Ikhwani (Ikhwanul Muslimin),” kata Agus saat
mengisi kajian ba’da sholat Dhuhur di Masjid Al
Bakrie, Jakarta (05/09).
Agus melanjutkan, masjid-masjid di Suriah hanya
boleh diisi oleh orang tua, sementara mereka yang
berusia muda diarahkan kepada kemaksiatan.
Menurutnya banyak masyarakat Indonesia yang
memperhatikan perang Suriah (hanya dari media
cetak dan elektronik) tidak tahu bagaimana rezim
Asad memperlakukan masyarakat sipil. Banyak
juga yang tidak tahu bagaimana aqidah Syiah
Nushairiyah yang sebenarnya.
“Maka tidak heran jika banyak tokoh yang
mendukung Asad. Jika mereka tahu bagaimana
rezim ini, maka akan berpikir bahwa perang di
Suriah merupakan perang antara Islam melawan
Syiah,” ujar Agus dengan gaya kalemnya.
Bahkan, lanjut Agus, ketika beberapa hari yang
lalu ada tokoh nasional yang berkunnjung
membesuk Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di
Nusakambangan, beliau diberitahu oleh tokoh
nasional itu agar tidak mencampuri isu Suriah,
“Musuh utama kita itu Israel,” cerita Agus tentang
pendapat si tokoh nasional itu kepada Ustadz Abu.
“Namun kalau kita lihat, musuh kita bukan hanya
Israel. Dan tidak semua yang tidak memerangi
Israel itu adalah kawan Islam.”
Ketidaktahuan masyarakat awam, khususnya di
Indonesia, karena adanya perang media yang
memang sengaja dijalankan oleh pihak musuh
Islam demi menutupi kezaliman mereka. Agus
yang juga seorang relawan menuturkan
pengalamannya selama menjalankan misi
kemanusiaan di Suriah beberapa waktu lalu.
Ada beberapa catatan yang sengaja ditutupi oleh
media pro rezim Asad, yaitu pendidikan anak-anak
yang tidak kondusif dan tidak memadai;
persediaan makanan sangat kurang terutama di
daerah pengungsian, dan terakhir berkaitan
dengan senjata kimia (gas sarin, yang menurut
PBB termasuk senjata pemusnah massal dan
dilarang) yang terjadi pada bulan Agustus lalu.
“Namun, setelah kami cek ulang ternyata ada
perbedaan waktu antara kapan video itu diunggah
dan kapan kejadian serangan kimia,” tambahnya.
Berdasarkan keterangan yang dibeberkan oleh
Malachy Browne, seorang editor video, pihak
rezim mengakui bahwa video yang diunggah pihak
oposisi adalah palsu namun ternyata tuduhan itu
tidak terbukti karena video diunggah 20 menit
setelah kejadian.
Agus mengingatkan jika orang-orang Syiah sejak
zaman dahulu gemar membuat kebohongan.
Bahkan di zaman para sahabat radhiyallahu
anhuma hobi mereka adalah berbohong sehingga
kebohongan dan penipuannya ‘mampu merenggut’
nyawa orang lain seperti Utsman bin Affan dan
Husein bin Ali RA.
“Akan sulit dikatakan jika pembantaian di Ghouta
dilakukan oleh pihak oposisi (pejuang Islam) dan
mereka membunuhi saudaranya (ahlus sunnah)
sendiri,” kata Agus.
Di akhir kajian, qadarullah, yang menjadi topik
pembicaraan terbukti ketika seorang pria paruh
baya meminta bukti-bukti konkret dan sumber-
sumber yang jelas atas materi yang disampaikan
kepada hadirin. Si bapak itu mengatakan, menurut
keterangan yang didapat dari Jose Rizal Jurnalis,
relawan Mer-C, sangat berbeda dengan apa yang
disampaikan oleh Agus.
Dengan santai Agus pun menjawab, “Memang
beda, pak, pandangan yang searching internet
dengan yang turun langsung ke lapangan.
Makanya yang berbicara begitu (data yang
disampaikan tidak valid), mari saya ajak ke
Suriah,” katanya mantap. (ul) bumisyam.com

Share on Google Plus

About Admin

0 komentar:

Posting Komentar