Header Ads

ad

Penting, Modernisasi Media Dakwah

Meskipun sudah lama dijadikan bahan perbincangan, tetapi memang belum kunjung mengerucut tentang bagaimana media dakwah yang efektif di era modern ini terutama dengan berkembangnya multimedia. Sepuluh tahun lalu dalam sebuah seminar di Kuala Lumpur, para ulama Melayu sudah menyatakan pentingnya pemanfaatan IT dalam berdakwah. Ketika itu ulama Sumbar H. Mas’oed Abidin menyuarakan hal itu. Dan ditanggapi positif oleh peserta seminar yang digelar oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM)

 Kemarin Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring di depan helat seratus tahun Perguruan Islam Thawallib Padang Panjang juga menekankan pentingnya pemanfaatkan multimedia dalam berdakwah. Karena dari multimedia itu juga masuk paham-paham yang mesti ditangkal dengan dakwah.

Artinya kalau berbagai paham masuk ke ranah publik lewat multimedia seperti internet, TV, Radio dan telekomunikasi maka menjadi tidak relevan lagi menggunakan media konvensional seperti mimbar dan sejenisnya.

Pernyataan Tifatul memang benar, bahwa dakwah bisa dilaksanakan melalui situs jejaring sosial seperti fecebook dan twitter. Karena itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, mengimbau kepada para dai di Sumatera Barat agar melek terhadap Teknologi Informasi (TI).
Ketika para dai memahami dan menguasai penggunaan teknologi informasi, maka bisa digunakan sebagai salah satu sarana dakwah kepada masyarakat.

Pada era sekarang dengan penguasaan teknologi informasi yang baik, dai bisa memanfaatkan situs jejaring sosial sebagai salah satu sarana dakwah dan tidak hanya berdakwah di mimbar saja.
Para dai harus melek TI agar bisa menyebarkan dakwah melalui facebook atau twitter yang penggunanya setiap hari terus bertambah.

Jejaring sosial seperti facebook dan twitter sebenarnya bukanlah hanya sarana ‘cuap-cuap’ (bercerita red), caci maki, curhat atau lainnya. Kedua jejaring sosial itu bisa menjadi salah satu media dakwah yang efektif mengingat pengguna facebook di Indonesia cukup besar, sehingga dakwah melaui media tersebur sangat mungkin dilakukan.

Pemikir Islam Harun Nasution pernah menulis bahwa tak bisa direm kalau ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam, terutama sesudah pembukaan abad kesembilan belas, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan  periode modern.  Kontak dengan dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi, dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan-persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu.

Sebagai halnya di Barat, di dunia Islam  juga timbul pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu. Dengan jalan demikian, pemimpin-pemimpin Islam modern mengharap akan dapat melepaskan umat Islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya dibawa kepada kemajuan.
Dakwah dalam pengertian sempit (bi al-lisan) memang merujuk pada penyampaian dakwah yang lebih berorientasi pada ceramah agama, yang pada saat sekarang ini berkembang menjadi disiplin retorika. Kemudian dakwah bi al-lisan (retorika) operasionalnya berkembang menjadi dakwah bi al-kitabah, yaitu dengan  tulisan  seperti di buku, tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Selanjutnya, dakwah bi al-hal, yaitu dakwah yang mengarah kepada upaya mempengaruhi dan mengajak orang seorang, atau kelompok manusia (masyarakat) dengan keteladanan dan amal perbuatan, perkembangannya menjadi populer dengan nama dakwah pembangunan.

Dari perkembangan seperti itu, tidak bisa disangkal apa yang dikemukakan Tifatul di Padang Panjang itu bahwa sudah saatnya dakwah tidak menabukan hal ihwal telekomunikasi dan informasi. Isi dahwahnya adalah informasi, sedang mimbarnya mulai berkembang ke arah penggunaan internet, komputer dan telekomunikasi. Dengan demikian dakwah tidak lagi terhambat ruang, tempat dan waktu. Dakwah maju bersamaan dengan kemajuan Iptek. Nah saatnya para da’i tidak lagi sekedar melihat IT dari perspektif negatif. ***

http://www.harianhaluan.com

Tidak ada komentar