TAFSIR AL-FATIHAH (2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Segala puji hanyalah milik Allah Rabb alam semesta"
(Al Fatihah : 2)

Apa itu 'Al Hamdulillah' ?
Abu Ja'far ibn Jarir Ath Thabary menjelaskan bahwa ungkapan Al Hamdu lillah adalah sebuah ungkapan kesyukuran yang murni hanya untuk Allah -bukan untuk yang disembah selain Allah- atas segala yang telah Ia karuniakan atas hamba-hambaNya yang mungkin dapat dihitung oleh jumlah bilangan, dan yang bilangannya tidak dapat dicakup dan diketahui oleh seorangpun. Kenikmatan-kenikmatan itu antara lain adalah (1) bagaimana Allah mengaruniakan kesehatan anggota tubuh dalam menjalankan keta'atan dan menunaikan kewajiban, (2) pembentangan dunia seluas-luasnya untuk mendapatkan rezki Allah, (3) pengaruniaan nikmat kehidupan yang sesungguhnya bukan menjadi hak manusia –ya, sesungguhnya kita tidak pernah berhak sedikitpun atas berbagai nikmat itu. Hanya Allah saja yang Maha pemurah memberikannya untuk kita-, dan yang tak kalah pentingnya (4) nikmat 'peringatan' dan bimbingan untuk menempuh jalan yang kelak mengantarkan kepada keabadian di negri akhirat. Atas dasar semua nikmat ini, maka sudah sepatutnya kita mengungkapan pujian tertinggi hanya untuk Allah Ta'ala.
Ibn Jarir Ath Thabary juga mengatakan bahwa ungkapan Al hamdulillah adalah ungkapan pujian yang diungkapkan oleh Allah untuk diriNya, namun secara tersirat mengandung perintah kepada para hambaNya untuk memuji Allah Ta'ala. Seolah-olah dalam ayat ini, Allah Ta'ala menyatakan : "Ucapkanlah Al hamdulillah".
Antara 'Al Hamdu' Dengan 'Asy Syukur'
Dalam bahasa Arab terdapat beberapa kata yang memiliki kedekatan secara maknawi, namun sesungguhnya mempunyai perbedaan yang cukup mendasar. Salah satunya adalah Al Hamdu dan Asy Syukur. Ibn Katsir menjelaskan bahwa kedua kata ini hubungan keumuman dan kekhususan. Al Hamdu bila dilihat dari sudut sasarannya memiliki cakupan yang lebih umum dan luas, sebab ia ditujukan untuk memuji segala sifat kebaikan yang ada pada seseorang yang bersifat transitif ( yang manfa'atnya terasa oleh orang lain, seperti sifat pemurah dan dermawan ) maupun yang bersifat intransitive ( yang hanya melekat pada diri dan tidak langsung terasa oleh orang lain, seperti sifat pemberani ). Namun bila dilihat dari sisi cara mengungkapkannya, Al Hamdu lebih khusus sebab dilakukan hanya dengan ucapan. Seperti saat kita memuji Allah Ta'ala dengan mengucapkan Al Hamdu lillah.
Adapun Asy Syukur ( Syukur ) maka dari sudut sasaran ia lebih khusus dan terbatas sebab hanya ditujukan kepada sifat-sifat yang bersifat transitif atau langsung terasa oleh orang lain, seperti ketika menghadapi kepemurahan Allah Ta'ala. Namun dari sisi cara mengungkapkannya, Asy Syukur memiliki ruang lingkup yang lebih luas sebab ungkapa syukur dapat diungkapkan tidak hanya dengan lisan, namun juga dengan perbuatan dan hati. Demikianlah inti perbedaan antara keduanya.
Kaum Salaf Menjelaskan 'Al Hamdulillah'
Pada suatu ketika, 'Umar ibn Al Khaththab –radhiallahu 'anhu- bertanya kepada 'Ali ibn Abi Thalib –radhiallahu 'anhu- : "Kalau kalimat La ilaha illallah, Subhanallah dan Allahu akbar maka kami telah mengetahuinya, namun kalau Al Hamdulillah apa itu gerangan ?" Maka 'Ali menjawab : "(Kalimat Alhamdulilah) adalah sebuah kalimat yang dicintai oleh Allah Ta'ala untuk diriNya, yang diridhai Allah untuk diriNya dan Ia cinta bila kalimat ini diucapkan (oleh hambaNya)."
Sedangkan Ibn 'Abbas –radhiallahu 'anhuma- mengatakan : "Alhamdulillah adalah kalimat syukur, bila seorang hamba mengucapkan Alhamdulillah maka Allah akan mengatakan : "HambaKu telah bersyukur kepadaKu." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim).
Keutamaan 'Alhamdulillah'
Dalam beberapa haditsnya, Rasulullah saw pernah menyinggung tentang keutamaan kalimat pujian ini. Di antaranya adalah :
1. Dari Al Aswad ibn Sari' –radhiallahu 'anhu-, ia berkata : "Aku pernah berkata : 'Wahai Rasulullah, inginkan Anda aku bacakan kalimat puji-pujian yang aku ungkapkan untuk memuji Rabb-ku ?'. Maka beliau saw bersabda : "Ketahuilah bahwa Rabb-mu itu sangat suka bila Ia dipuji." (HR. Ahmad)
2. Dari Jabir ibn 'Abdullah –radhiallahu 'anhu-, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Seutama-utama dzikir adalah kalimat La ilaha illallah, dan seutama-utama do'a adalah kalimat Alhamdulillah." (HR. At Tirmidzy, An Nasa'iy dan Ibn Majah)
3. Dari Anas ibn Malik –radhiallahu 'anhu-, Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah Allah mengaruniakan sebuah nikmat kepada seorang hamba, lalu (hamba itu) mengucapkan 'Alhamdulillah' melainkan apa yang ia ucapkan itu jauh lebih mulia dibandingkan (nikmat) yang telah ia terima." (HR. Ibn Majah)
4. Ibn 'Umar –radhiallahu 'anhuma- mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah menyampaikan kepada mereka : "Bahwasanya seorang hamba Allah mengucapkan 'Wahai Rabbku, Laka Al Hamdu Kama Yanbaghy Li Jalali Wajhika wa 'Azhim Shulthanika (UntukMulah segala pujian yang sesuai dengan keagungan WajahMu dan keagungan kekuasaanMu).' Maka dua malaikat (pencatat amal) pun merasa kesulitan untuk mencatatnya, maka mereka pun naik menemui Allah dan bertanya,"Wahai Tuhan kami, seorang hambaMu telah mengucapkan sebuah kalimat yang kami tidak tahu bagaimana mencatatnya." …Maka Allah mengatakan : "Tulislah kalimat itu seperti ia mengucapkannya, hingga kelak ia menjumpaiKu lalu Aku-lah yang akan memberikan balasannya." (HR. Ibn Majah)
Keutamaan-keutamaan ini seharusnya tidak membuat kita bakhil dan enggan mengucapkan 'sekedar' Alhamdulillah dalam keseharian kita. Sebab bukankah karunia dan balasan untuknya begitu besar ??
Pengertian 'Ar Rabb'
Kata Ar Rabb secara dasar bermakna penguasa yang mengatur. Dalam bahasa Arab kata ini juga terkadang digunakan untuk sayyid ( yang dipertuankan dan dimuliakan ) atau untuk yang mengatur sesuatu demi perbaikan. Dan kesemua makna itu tepat untuk Allah Azza wa Jalla. Itulah sebabnya dalam bahasa Arab, kata Rabb tidak disebutkan secara mutlak (tersendiri) kecuali untuk Allah. Artinya bila Anda mengucapkan Rabb atau Ar Rabb maka itu berarti adalah Allah Ta'ala. Namun bila Anda ingin mengatakan 'pengatur dan pemilik rumah' misalnya, maka Anda harus menempelkan kata 'rumah' dengan kata Rabb dengan mengatakan 'Rabb Al Bait' (pemilik rumah).
Apa Yang Dimaksud Dengan 'Al 'Alamin' ?
Kata Al 'Alamin dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari 'alam –dalam bahasa indonesia kemudian menjadi 'alam'. Dan segala sesuatu selain Allah Ta'ala adalah 'alam. Banyak definisi dan batasan yang disebutkan para ulama untuk menjelaskan hakikat 'alam ini. Ada yang mengatakan bahwa 'alam adalah seluruh makhluq yang berakal, dan termasuk dalam kategori ini adalah manusia, jin, malaikat dan syaithan. Ada pula yang mengatakan bahwa semua yang mempunyai ruh adalah 'alam.
Namun yang nampaknya lebih tepat adalah bahwa 'alam itu adalah segala sesuatu yang diciptakan Allah Azza wa Jalla baik di dunia maupun di akhirat. Pendapat ini diungkapkan oleh Az Zajjaj, dan dibenarkan oleh Imam Al Qurthuby, seperti ketika Allah Ta'ala mengisahkan ucapan Fir'aun yang menanyakan siapa itu Rabbul 'alamin :
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ
"Fir`aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". (Asy Syu'ara : 23-24)
Wallahu ta'ala a'lam.

Sumber: wahdah.or.id
Share on Google Plus

About Admin

0 komentar:

Posting Komentar