Header Ads

ad

Syeikh Ammar Bugis Penakluk Kemustahilan

Ammar Bugis. Pemuda asal Jeddah, Arab Saudi, yang memiliki darah Bugis Indonesia ini, lahir tanggal 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari kakek Buyutnya yang berasal dari Sulawesi. Buyut Ammar, Syaikh Abdul Muthalib Bugis “hijrah” dari Sulawesi ke Mekah dan mengajar Tafsir di Masjidilharam. Allah menganugerahinya kelumpuhan total kecuali lidah dan mata sejak usianya menginjak dua bulan.


Berprestasi di semua jenjang pendidikan, lulus dengan cum laude di jurusan jurnalistik dan menjadi lulusan terbaik di kampusnya, penulis dan wartawan olah raga terkenal, dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, merupakan torehan “tinta emas” perjalanan Ammar menaklukkan keterbatasan yang pantas menjadi cermin dan inspirasi bagi kita semua.

Salah satu inspirasi tersebut adalah cara pandang Ammar melihat keterbatasan, “…Hidup saya dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang saya alami agar saya dapat melampaui kekurangan fisik saya…agar saya bisa mengubah kekurangan tersebut menjadi kekuatan dan senjata yang menghantarkan saya kepada kebahagiaan”.

Selain itu, Ammar juga menambahkan, “Apa yang dilakukannya dan segala yang telah diraihnya semoga menjadi motivasi dan inspirasi  bahwa orang-orang yang berkebutuhan khusus bisa melakukan sesuatu melampaui keterbatasan yang telah Allah anugerahkan untuknya.”
Selamat menikmati.

Syeikh Ammar Bugis (Penakluk Kemustahilan) Kunjungi Daarul Qur’an Ketapang

Hidayatullah.com--''Jamaah, tolong doakan saya, agar Allah memberi kesempatan 10 detik saja tubuh saya bisa bergerak normal sehingga saya bisa bersujud kepada-Nya,'' pinta Syeikh Ammar Haitsam Bugis di Daarul Qur'an, Ketapang, Tangerang, Selasa, (25/12/2012) kemarin.

Permohonan itu diterjemahkan Ustadz Slamet Ibnu Syam selaku sohibul bayt, yang mendampingi tujuh Syeikh asal Timur Tengah di Kampung Qur’an dari Saudi, Yaman, Suriah, dan Iraq. Mereka hadir untuk berbagi ilmu qiro’at Qur’an, pengalaman menghafal Kitabullah, dan menyuntikkan motivasi bagi segenap keluarga besar Kampung Qur’an.
Kehadiran mereka disambut segenap pimpinan Yayasan Daarul Qur’an Indonesia dan PPPA Daarul Qur’an, serta ratusan jamaah dari Aceh sampai Papua.

Ammar Bugis, masih berdarah Makassar. Ia lahir di Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.

Syeikh Ammar lumpuh total sejak 2 bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk hidup dan berarti.
Dengan pendidikan homeschooling, Ammar sudah hafal 30 juz Qur'an sejak usia 13 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Ia lulus dari Jurusan Jurnalistik King Abdul Aziz University. Menjadi wartawan olahraga Harian Al Madinah yang terbit di Jeddah, dan kolumnis Harian Ukaz terbitan Riyadh.

Ammar juga menjadi dosen di Universitas Dubai sambil meneruskan pendidikan S-2 di sana atas beasiswa Pangeran Uni Emirat Arab, Hamdan bin Muhammad bin Rasyid Al Maktum Al Fazza.
Kakak lelaki Ammar, Hasan Bugis, tubuhnya normal, seorang pilot Saudi Airline. Sedang adiknya, perempuan, yang juga lumpuh seperti Ammar, adalah seorang dokter.

Selain untuk sujud, 10 detik yang dipinta Ammar Haitsam Bugis juga akan dimanfaatkan untuk membuka mushaf Al Qur'an yang belum pernah dapat dilakukannya sendiri.
Banyak di antara ratusan jamaah menangis terharu mendengar permintaan Syeikh Ammar. Termasuk Ustadz Yusuf Mansur yang berada di sebelahnya.

Kepada Pendiri Daarul Qur’an, Syeikh Ammar menyatakan ingin memasukkan anaknya, Yusuf (14), ke Ponpes Daarul Qur’an Ketapang. ‘’Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an adalah pendidikan untuk meraih dunia-akhirat,’’ tandas Syeikh Ammar, yang menuliskan perjuangan hidupnya dalam buku berjudul "Qohir Al Mustahil" (Penakluk Kemustahilan).
Dalam taushiyahnya Ustadz Yusuf Mansur menegaskan, fenomena Syeikh Ammar menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. ‘’Namun pikiran dan perasaan kita sendiri yang suka memustahilkan diri kita. Akhirnya itu jadi do’a buat kita sendiri,’’ katanya.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT menyatakan bahwa ‘’Aku ini sebagaimana prasangka hamba-Ku.’’ Artinya, Allah akan ‘’menuruti’’ persangkaan pikiran dan perasaan manusia akan takdirnya sendiri.
Ustadz Yusuf mencontohkan, banyak orang merasa mustahil bisa naik haji karena kondisinya miskin atau banyak utang. Akibatnya, ya mustahil beneran. Padahal, dengan bersandar pada Allah Yang Maha Kuasa, kemiskinan dan utang bukan hambatan untuk ke Tanah Suci.

Turut memeriahkan silaturahim tersebut, penampilan para santri Daarul Qur’an dalam defile drumband, atraksi senam Daqu, koor hymne dan mars Daqu, serta muhadhoroh (pidato) dwilingual Arab-Inggris.
Acara diakhiri jelang waktu dhuhur dengan menyaksikan bersama pemasangan tiang pancang sebagai peresmian dimulainya pembangunan Masjid Daarul Qur’an.*/Kiriman Nur Bowo

Red: Cholis Akbar

SYAIKH AMMAR BUGIS SAMPAIKAN CERAMAH DI LIPIA, MAHASISWA DAN DOSEN MENANGIS TERSEDU-SEDU


JAKARTA (gemaislam) - Bagi seorang muslim, dunia adalah tempat ujian dan ladang pahala. Cobaan  yang diberikan oleh Allah  kepada para hamba-Nya bermacam-macam bentuknya, salah satunya dengan ketidak sempurnaan fisik.

Sebagai seorang Muslim, cobaan tersebut hendaknya disikapi dengan hati yang sabar dan ikhlas. Sebab di balik kekurangan, Allah pasti memberikan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.
Adalah Syaikh Ammar Bugis, pria lumpuh berdarah Makassar yang lahir di Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.

Syaikh Ammar lumpuh total sejak  usia 2 bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk hidup dan berarti.
Luar biasa, ditengah keadaan yang serba mustahil, Ammar sudah hafal 30 juz Qur'an sejak usia 11 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Tentunya ini adalah kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang.
Mengawalai nasihatnya dihadapan para dosen dan mahasiswa LIPIA Jakarta, Syaikh Ammar mengomentari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa akal yang selamat hanyalah terdapat pada badan yang sehat, menuurutnya hal ini kurang tepat.
“Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang sehat,”kata Ammar mengawali nasihatnya.

Hal ini, kata Ammar, terdapat didalam hadits “Jika sepotong daging itu baik, maka baiklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.

Saat beliau menceritakan kesabaran dan ketelatenan ibunya dalam mengurus dan menjaganya sehingga ia saat ini menjadi seorang hafidz Al Quran, para mahasiswa yang hadir menangis tersedu-sedu, bahkan ada beberapa dosen yang bertakbir keras sambil menangis menjerit.

Beliaupun menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik sempurna tapi hatinya tidak sesempurna fisiknya.“Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, “katanya.

Beliaupun menyarankan kepada para Mahasiswa agar giat menghafal Al Quran dan jangan mudah putus asa. “Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat yang pendek terlebih dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu itu saya bisa menghafal satu juz dalam sehari,” ujarnya
.
Setelah kurang lebih satu jam, ceramah di tutup, tiba-tiba seorang dosen dan  pakar Ushul Fiqih asal mesir, DR. Azazi menemuinya dan mencium keningnya.

Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah yang mendengarkan ceramah beliau, menangis terharu dan merasa termotivasi oleh nasihat Syaikh Ammar.

“Alhamdulillah, ini motivasi yang sangat luar biasa, saya merasa malu terhadap beliau, kondisi saya yang sempurna fisik ini masih belum bisa apa-apa,” kata Aris saat dihubungi gema islam, Rabu malam (26/12). (bms)
Penakluk Kemustahilan
Rp.45.000 
ISBN: 9786028997577
Rilis:2012
Halaman:180
Penerbit:Republika
Bahasa:Indonesia


Tidak ada komentar