Wajibnya Mengikuti Salafus Shalih dan Konsisten Terhadap Madzhab Mereka




Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada Ku” (QS. Luqman : 15)
 
Sesungguhnya Allah Azza wajalla telah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meniti atsar, dan menempuhi manhaj mereka. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menerangkan setelah menyebutkan ayat tersebut, “Seluruh sahabat kembali kepada Allah Ta’ala, maka wajib mengikuti jalannya dan perkataannya, dan keyakinannya yang merupakan jalan-Nya yang paling besar. Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka dan Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan mereka dengan ancaman Api Jahannam, Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa: 115)
Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada kita tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan menyediakan bagi mereka pahala yang besar sebagaimana firman-Nya,
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)
Sebagaimana halnya Allah mengancam orang-orang yang mengikuti selain jalan mereka dengan adzab jahannam, sebaliknya Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengikuti jalan mereka (orang-orang yang awal masuk islam) dengan Syurga dan keridhaan-Nya.
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan kepada ummatnya untu mengikuti sunnahnya dan sunnah khalifah sesudahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ، يَرَ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهاَ وَعَضُّوْا عَلَيْهاَ بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya siapasaja yang hidup sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi gerahamu, hati-hatilah kalian dari perkara baru, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud)
Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang yang setelahnya, kemudian setelahnya …”
Beliau Shalallahu’alaihi wasallam juga mensifati golongan yang selamat dalam hadits iftiraqul ummah (perpecahan ummat), beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ما أنا عليه اليوم وأصحابي
“Apa yang aku dan para sahabatku hari ini berada diatasnya.”
Maka siapa saja yang berada di atas landasan yang mereka (Rasul dan Sahabat) berada di atasnya maka ia termasuk kelompok yang selamat. dan barangsiapa yang menyelisihi dan menjauh dari mereka maka ia termasuk Ahlul Wa’id (orang yang diancam).
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallahu‘anhu beliau berkata,
اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
“Ikutilah (Rasulullah) dan jangan membuat bid’ah niscaya hal itu telah mencukupimu.”
dan beliau berkata,
إنا نقتدي ولا نبتدي ونتبع ولا نبتدع ولن نضل ما تمسكنا بالأثر
“Sesungguhnya kami mencontoh dan tidak pernah mengada-ada, mengikuti dan bukan membuat hal baru dan kita tidak akan tersesat selama berpegang dengan atsar.”
Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘anhu berkata,
عليكم بالسبيل والسنة فإنه ليس من عبد علي سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار أبداً، وإن اقتصاداً في سنة ،وخير، خيرٌ من اجتهاد في خلاف سبيل وسنة
“Wajib atas kalian berada di atas jalan (yang benar) dan berada diatas sunnah, karena tidak ada seorangpun berada di atas jalan dan sunnah lalu dia mengingat Ar Rahman, kemudian meneteskan air matanya karena takut kepada Allah, lalu ia tersentuh api neraka selamanya. Sesungguhnya membatasi diri di atas Sunnah dan kebaikan lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam perkara yang menyelisihi jalan dan As Sunnah.”
Abul ‘Aliyah berkata,
عليكم بالأمر الأول الذي كانوا عليه قبل أن يفترقوا
“Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan urusan yang pertama yang mereka (para salafus shalih) berada diatasnya sebelum berpecah belah.”
Al Imam Al’Auza’i berkata,
اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فإنه يسعك ما وسعهم
“Sabarlah kamu di atas sunnah, dan berhentilah di mana kaum (salafus shalih) berhenti, berkatalah dengan apa yang mereka katakan dan tahanlah dirimu dari perkara yang mereka menahan dirinya, serta tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih karena sesungguhnya cukup bagimu apa yang telah cukup bagi mereka”.
beliau juga berkata,
عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوا لك القول
“Wajib atas kalian untuk menempuh atsar generasi salaf, walaupun manusia menolakmu dan hati-hatilah kamu terhadap pemikiran manusia walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah.”
Dan Imam Ahmad berkata pula,
أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم والاقتداء بهم وترك البدع
“Asal sunnah itu menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ditempuh oleh para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencontohnya serta meninggalkan kebid’ahan.”

[Dinukil dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaadah, Penulis Abdussalam bin Salim As-Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafy Sejati]

Share on Google Plus

About Admin

0 komentar:

Posting Komentar